Di Singapura, diagnosis Autism Spectrum Disorder (ASD) seringkali menjadi titik balik bagi orang tua. Percakapan klinis yang awalnya biasa-biasa saja dengan cepat berubah menjadi hal yang sangat pribadi, dipenuhi dengan kesedihan, keraguan diri, dan ketakutan akan masa depan anak. Dalam masyarakat yang mengutamakan prestasi, emosi-emosi ini seringkali diperparah oleh ekspektasi yang tidak terucapkan dan perbandingan.
Cerita yang dibagikan oleh keluarga melalui Channel NewsAsia, The Straits Times, dan Our Grandfather Story mengungkapkan pengalaman yang umum: orang tua berduka atas kehidupan yang pernah mereka bayangkan, meragukan diri sendiri, dan mencari penghiburan—kadang-kadang berharap anak mereka hanyalah anak yang berkembang terlambat.
Untuk melampaui diagnosis dan benar-benar mendukung keluarga-keluarga ini, kita harus terlebih dahulu memahami bagaimana kehidupan sehari-hari anak-anak autis, dan tantangan yang mereka hadapi secara diam-diam setiap hari.
Perilaku Sehari-hari Anak-anak Autis

Dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak autis mungkin menunjukkan perilaku atau respons sensorik yang sering kali disalahpahami, terutama di ruang publik. Perilaku-perilaku ini tidak disengaja, melainkan respons terhadap stimulasi sensorik yang berlebihan atau stres emosional.
Memahami alasan di balik perilaku-perilaku ini membantu keluarga dan komunitas merespons dengan empati dan inklusi.
1. Berkeliling dan Tersesat
Berjalan-jalan tanpa tujuan adalah masalah umum yang dihadapi oleh keluarga anak-anak autis. Seorang anak mungkin tiba-tiba merasa terdorong untuk pergi demi mencari objek tertentu, orang, atau sensasi yang familiar, terkadang tanpa menyadari bahaya yang ada.
Di tempat-tempat umum seperti toko, restoran, atau sistem transportasi umum, hal ini dapat menyebabkan kepanikan atau kesalahpahaman, terkadang melibatkan pihak berwenang.
2. Kesalahpahaman di Ruang Publik
Ketika merasa kewalahan, anak-anak autis mungkin mengekspresikan emosi melalui perilaku intens seperti berteriak, menangis, atau gerakan fisik. Reaksi-reaksi ini kadang-kadang disalahartikan sebagai perilaku buruk atau ketidak sopanan, padahal sebenarnya merupakan tanda-tanda kelebihan rangsangan sensorik atau gangguan regulasi emosi.
3. Pengalaman Umum di Rumah
Di dalam keluarga, anak-anak autis mungkin menunjukkan:
-
Reaksi emosional yang kuat
-
Ketergantungan yang tinggi pada pengasuh
-
Kesulitan dalam menafsirkan tindakan saudara kandung
Perilaku self-stimulating (seperti memukul kepala, mengeluarkan suara, atau gerakan berulang) seringkali strategi regulasi diri, membantu anak mengatasi rangsangan sensorik. Perilaku ini mungkin terlihat tidak biasa tetapi dapat memberikan kenyamanan.
Banyak anak autis juga sangat sensitif terhadap suara, terutama suara yang keras atau tajam. Membuat komunikasi yang tenang dan lembut dapat menjadi hal yang penting di rumah.

Pengalaman Sensorik dalam Kehidupan Sehari-hari
Anak-anak autis sering mengalami dunia melalui sensitivitas sensorik yang meningkat, terutama dalam penglihatan dan pendengaran. Perbedaan ini sangat memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan.
1. Sensitivitas Visual
Kontak mata bisa terasa menakutkan—bukan karena kurangnya minat sosial, tetapi karena hal itu menimbulkan tekanan sensorik. Beberapa anak mungkin mengalihkan pandangan, menutup mata, atau memalingkan kepala sebagai bentuk perlindungan diri.
Banyak individu autis juga memperhatikan detail visual halus yang diabaikan oleh orang lain, seperti debu, rambut, atau penataan objek. Detail-detail ini dapat mengganggu atau menimbulkan ketidaknyamanan.
2. Sensitivitas Pendengaran
Suara-suara yang tinggi atau kacau—seperti guntur, gema, atau ruang yang ramai—dapat memicu kecemasan. Di ruang kelas, kebisingan yang berlebihan dapat mengganggu proses belajar dan konsentrasi.
Menariknya, banyak anak autis merespons secara positif terhadap musik yang terstruktur dan ritmis, menggunakannya sebagai sumber kenyamanan dan ekspresi emosional.
Memahami dan menghormati kebutuhan sensorik ini memungkinkan anak-anak untuk menjelajahi dunia dengan aman—termasuk kegiatan di luar rumah, perjalanan, dan pengalaman sosial—dengan persiapan dan dukungan yang lebih baik.

Bagaimana Orang Tua Dapat Mendukung Anak-Anak Autis
Dukungan orang tua dalam jangka panjang memainkan peran penting dalam perkembangan. Dukungan ini dapat diintegrasikan ke dalam rutinitas harian, lingkungan belajar, dan bimbingan emosional.

1. Membangun Struktur Pembelajaran yang Mendukung
Strategi yang berguna meliputi:
- Jadwal yang konsisten dengan istirahat yang direncanakan
- Pengulangan untuk memperkuat pembelajaran dan memori
- Jadwal visual dan alat bantu untuk kejelasan dan kemandirian
- Penguatan positif (pujian, stiker, sistem hadiah)
Pendekatan-pendekatan ini meningkatkan motivasi dan memperkuat perilaku positif.
2. Dorong Komunikasi & Kurangi Stimulasi Diri
Orang tua dapat:
- Gunakan bahasa yang jelas dan sederhana.
- Latihlah kesabaran saat menghadapi momen-momen emosional.
- Sediakan alat bantu visual untuk mengekspresikan kebutuhan.
- Ajaklah anak untuk melakukan gerakan atau mengucapkan kalimat singkat (“minum air,” “ingin mainan”)
Strategi-strategi ini membantu anak-anak berkomunikasi dengan lebih efektif dan mengurangi perilaku yang dipicu oleh frustrasi.
3. Mendukung Adaptasi Sosial
Untuk mengembangkan keterampilan sosial, orang tua dapat:
- Dorong partisipasi dalam kegiatan kelompok kecil atau permainan tim.
- Latihlah salam dan ungkapan sopan
- Bantu anak-anak mengenali emosi melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh.
4. Bangun Kebiasaan Sehat Setiap Hari
Mengajar keterampilan perawatan diri—seperti menyikat gigi, berpakaian, atau merapikan diri—membangun kemandirian dan kepercayaan diri seiring waktu.
Gizi juga memainkan peran penting. Pola makan seimbang mendukung energi, konsentrasi, dan kestabilan emosional. Bagi anak-anak dengan kebiasaan makan yang selektif, paparan bertahap dan bimbingan profesional dapat membantu.
Beberapa keluarga menjelajahi dukungan usus-otak melalui nutrisi dan psikobiotik, karena penelitian menunjukkan kesehatan usus dapat memengaruhi suasana hati dan regulasi emosi.
Pikiran Akhir
Autisme adalah kondisi yang kompleks, dan setiap anak autis memiliki keunikan tersendiri. Dukungan keluarga, pemahaman dini, dan inklusi sosial memainkan peran kritis dalam membantu anak-anak mengatasi tantangan dan membangun kehidupan yang bermakna.
Dengan memahami penyebab autisme, mengenali realitas sehari-hari, dan menerapkan strategi dukungan yang disesuaikan, orang tua dapat membantu anak-anak autis memperkuat kemampuan komunikasi, kepercayaan diri sosial, dan kualitas hidup secara keseluruhan.




